redaksiharian.com, Jakarta – Pelaku usaha di Indonesia mulai mengkhawatirkan dampak konflik di Timur Tengah terhadap kelangsungan industri dalam negeri. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Bob Azam, mengingatkan bahwa gangguan rantai pasok global berpotensi membuat aktivitas produksi pabrik tersendat, bahkan berhenti dalam waktu dekat.
Ia menyampaikan bahwa sejumlah sektor industri mulai mengalami kesulitan memperoleh bahan baku. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian terkait keberlanjutan produksi, khususnya memasuki periode April hingga Mei.
Menurut Bob, salah satu contoh yang sudah terasa adalah kelangkaan bahan baku plastik yang kini semakin sulit diperoleh. Situasi ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap industri mulai nyata dan dapat berdampak luas.
Ia menjelaskan bahwa persoalan ini banyak dipicu oleh keterbatasan pasokan bahan baku impor, terutama yang berasal dari turunan minyak bumi. Industri yang bergantung pada bahan seperti nafta dan gas menjadi pihak yang paling terdampak.
Sektor makanan dan minuman juga dinilai sangat rentan, mengingat penggunaan plastik sebagai bahan kemasan sangat dominan. Jika pasokan terganggu, maka produksi di sektor ini berisiko ikut terdampak.
Tak hanya soal ketersediaan, lonjakan harga bahan baku juga menjadi tantangan serius. Harga plastik dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai 60 hingga 70 persen. Kenaikan ini berpotensi mendorong harga produk di tingkat konsumen.
Meski menghadapi tekanan biaya, dunia usaha berupaya menahan kenaikan harga agar tidak semakin membebani masyarakat. Pelaku industri memilih melakukan efisiensi internal sambil berharap adanya kebijakan pemerintah yang lebih adaptif terhadap situasi global.
Bob menilai, menjaga stabilitas harga menjadi penting di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Ia juga mengingatkan potensi risiko ekonomi yang lebih besar, seperti terjadinya stagflasi, yaitu kondisi ketika harga meningkat tetapi daya beli justru menurun.
Sebagai langkah antisipasi, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan tenaga kerja. Upaya seperti penyederhanaan regulasi serta peningkatan produktivitas dinilai menjadi kunci untuk menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks.