redaksiharian.com, Jakarta -Guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Kabupaten Flores Timur dan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (8/4) malam. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah warga serta menimbulkan korban luka.

Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menyampaikan bahwa dampak gempa paling terasa di beberapa desa di Pulau Adonara, khususnya Desa Terong dan Desa Lamahala. Ia juga mengonfirmasi adanya puluhan warga yang mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur masih melakukan pendataan di lapangan. Pihak BPBD memperkirakan jumlah rumah yang terdampak bisa bertambah seiring proses verifikasi data yang masih berlangsung, dengan laporan sementara mencapai lebih dari 70 unit rumah rusak.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa berdasarkan laporan masyarakat, getaran gempa turut dirasakan di Lembata dengan intensitas III MMI, yang digambarkan seperti sensasi kendaraan berat melintas.

Berdasarkan data BMKG, hingga Kamis pagi tercatat puluhan gempa susulan, dengan kekuatan tertinggi mencapai magnitudo 3,8 yang berpusat di daratan sekitar 24 kilometer tenggara Larantuka.

Pihak BMKG memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena tidak terjadi perubahan signifikan pada dasar laut. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan meskipun intensitasnya diperkirakan menurun.

Sementara itu, PVMBG menjelaskan bahwa wilayah tersebut memang termasuk zona rawan aktivitas seismik. Episentrum gempa berada di kedalaman dangkal, sekitar 5–10 kilometer, dan berlokasi di tenggara Larantuka.

Gempa ini dipicu oleh aktivitas tektonik di zona pertemuan lempeng di kawasan Nusa Tenggara. Wilayah Flores Timur berada di jalur seismik aktif akibat pergerakan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, serta keberadaan sesar-sesar aktif di sekitarnya.