redaksiharian.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran terkait akses Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan kedua pihak.
Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menyerang sejumlah infrastruktur penting di Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, apabila Teheran tidak segera membuka jalur tersebut untuk lalu lintas kapal internasional. Pernyataan itu ia sampaikan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Minggu (5/4).
Dalam unggahannya, Trump menyebut kemungkinan adanya aksi militer yang ia gambarkan sebagai “hari pembangkit listrik” dan “hari jembatan” di Iran. Ia juga melontarkan ancaman keras agar Selat Hormuz segera dibuka, disertai pernyataan bernada provokatif.
Pada unggahan lainnya, Trump menyinggung waktu tertentu yang diduga berkaitan dengan rencana aksi militer tersebut, merujuk pada Selasa pukul 20.00 waktu setempat di Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada akhir Maret, Trump juga telah menyampaikan tekanan serupa kepada Iran agar membuka akses Selat Hormuz. Pernyataan berulang ini menuai kecaman dari pihak Iran.
Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam ancaman tersebut dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera mengambil langkah pencegahan. Mereka menilai ancaman terhadap fasilitas sipil merupakan pelanggaran serius yang harus dihindari.
Selain itu, Iran menegaskan akan memberikan respons terhadap setiap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat maupun sekutunya, termasuk Israel.
Di sisi lain, Trump juga mengklaim tengah mendorong upaya negosiasi untuk mencapai gencatan senjata, bahkan sempat menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Namun demikian, Iran tetap bersikeras menolak membuka akses Selat Hormuz bagi Amerika Serikat dan negara-negara yang dianggap sebagai sekutunya.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Konflik tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa, termasuk warga sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan terhadap target yang berkaitan dengan AS dan Israel di kawasan Teluk, sekaligus menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan strategis.
Penutupan jalur tersebut memicu kekhawatiran global terhadap potensi krisis energi, mengingat peran penting Selat Hormuz dalam distribusi minyak dunia. Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah antisipatif, seperti pembatasan konsumsi bahan bakar hingga kebijakan kerja jarak jauh bagi aparatur sipil.