redaksiharian.com, Jakarta – Dulu sering dipandang rendah, kini pemukiman padat penduduk atau favela di Rio de Janeiro, Brasil, mulai mendapatkan sorotan sebagai daya tarik pariwisata. Perubahan ini muncul setelah Embratur meluncurkan serial dokumenter yang menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat di favela, membuka perspektif baru bagi wisatawan yang selama ini hanya melihat favela sebagai lingkungan miskin dan rawan kekerasan.
Dokumenter ini menampilkan enam favela utama: Vidigal, Rocinha, Santa Marta, Providência, Mangueira, dan Chapéu. Proyek ini diproduksi oleh 15 kru yang berasal dari komunitas lokal, sehingga menghadirkan cerita yang autentik tentang seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari penduduk favela. Pendekatan ini berhasil menampilkan sisi lain favela yang selama ini sering distereotipkan sebagai kumuh dan miskin.
Serial tiga episode ini pertama kali tayang pada Februari lalu di Pameran Pariwisata Lisbon. Pada kesempatan yang sama, pengusaha kecil dari favela mendapat kesempatan pertama untuk berpartisipasi di stan resmi pemerintah Brasil, menandai perubahan signifikan dalam promosi pariwisata lokal.
Presiden Embratur, Marcelo Freixo, menekankan pentingnya pariwisata yang dipimpin oleh masyarakat lokal. Menurutnya, hal ini akan memberikan dampak ekonomi yang nyata sekaligus mengubah citra Brasil di mata dunia. “Pariwisata di favela harus dipimpin oleh orang-orang yang tinggal di sana. Itu yang menciptakan efek nyata bagi ekonomi lokal dan mengubah cara dunia melihat Brasil,” ujarnya, dikutip Rio Times.
Program dokumenter ini telah meningkatkan minat wisatawan internasional untuk belajar langsung dari penduduk lokal, misalnya di koperasi Chapeu Mangueira. Pemimpin komunitas Santa Marta menambahkan, proyek ini berhasil menghilangkan persepsi bahwa wisatawan membutuhkan pemandu eksternal karena favela berbahaya.
Selain serial dokumenter, Embratur juga menjalankan program “Made in Brasil” bekerja sama dengan CIEDS. Program ini memberikan pelatihan bagi pengusaha lokal dan komunitas di Rio de Janeiro, Salvador, dan Recife. Materi pelatihan mencakup penilaian wilayah, lokakarya branding, maraton inovasi, hingga proses inkubasi bisnis, sehingga masyarakat lokal dapat mengembangkan produk pariwisata mereka sendiri.
Proyek lain yang mendukung pariwisata favela termasuk “Rocinha Mundo Afora,” yang memasukkan komunitas favela ke katalog perjalanan tur internasional, serta program “Laboratorio de Encantadores” yang dilaksanakan bersama Universidade Federal Fluminense untuk melatih ratusan pemandu dan pengemudi wisata di Rio.
Pariwisata di favela Rio semakin menjanjikan, ditunjukkan dengan lonjakan kunjungan turis internasional. Pada 2025, Rio de Janeiro menyambut 2,19 juta wisatawan asing, naik 43,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Januari 2026, jumlah wisatawan internasional meningkat 17 persen lagi, menegaskan popularitas baru favela sebagai destinasi wisata.