redaksiharian.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kunjungan kerja ke luar negeri yang ia lakukan bertujuan untuk melindungi kepentingan masyarakat Indonesia, terutama dalam menjaga serta menciptakan peluang kerja.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan dinas ke berbagai negara bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam memastikan stabilitas lapangan pekerjaan bagi rakyat. Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram Kementerian Sekretariat Negara pada Kamis (26/3).
Menurut Prabowo, meskipun para menteri telah menjalankan tugas masing-masing, ada sejumlah keputusan penting yang tetap memerlukan kehadiran langsung seorang kepala negara. Hal ini terutama berkaitan dengan proses negosiasi dan pencapaian kesepakatan strategis dengan mitra internasional.
Ia juga menekankan pentingnya memiliki posisi tawar yang kuat dalam hubungan antarnegara. Dengan posisi tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga kepentingan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Dalam waktu dekat, Prabowo dijadwalkan kembali melakukan kunjungan luar negeri. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tengah menyiapkan agenda lawatan ke Jepang pada 29–31 Maret, dilanjutkan ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 2 April.
Berdasarkan informasi dari pemerintah Jepang, Presiden Prabowo akan menghadiri jamuan makan siang kenegaraan bersama Kaisar Jepang, serta dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kunjungan ini dinilai sebagai momentum penting untuk mempererat kerja sama strategis antara kedua negara.
Sementara itu, kantor berita Yonhap melaporkan bahwa dalam kunjungannya ke Korea Selatan, Prabowo akan bertemu Presiden Lee Jae Myung. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari perdagangan, investasi, industri pertahanan, hingga pengembangan teknologi seperti kecerdasan buatan.
Selain itu, kedua pemimpin juga diperkirakan akan mendiskusikan sektor lain seperti pembangunan infrastruktur, industri perkapalan, energi nuklir, transisi energi, serta kerja sama budaya. Tidak hanya itu, isu hubungan antara ASEAN dan Korea Selatan, serta kondisi keamanan global, juga akan menjadi bagian dari pembahasan.