redaksiharian.com, Jakarta – Setelah melalui proses riset dan pengembangan yang panjang, kehadiran taksi terbang semakin mendekati kenyataan. Perusahaan asal Amerika Serikat seperti Joby Aviation dan Archer Aviation bahkan berencana meluncurkan layanan taksi udara di Dubai pada akhir tahun ini, yang dapat menjadi langkah penting menuju penggunaan komersial.
Meski demikian, sejumlah hambatan masih membayangi, mulai dari aspek keselamatan, biaya operasional, hingga kesiapan infrastruktur. Analis dari SMG Consulting, Sergio Cecutta, menilai layanan dalam skala besar kemungkinan baru dapat terwujud pada pertengahan dekade berikutnya, bukan dalam waktu dekat.
Sejarah pengembangan taksi terbang juga menunjukkan bahwa banyak rencana yang tertunda. Salah satunya adalah rencana pengoperasian saat Olimpiade Paris 2024 yang akhirnya batal karena kendala sertifikasi mesin.
Teknologi taksi terbang umumnya menggunakan konsep pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL), yang dirancang lebih senyap, ramah lingkungan, dan efisien dibanding helikopter. Desainnya bervariasi, namun kebanyakan mengandalkan beberapa motor listrik dan baling-baling, menyerupai drone.
Sejumlah perusahaan seperti Volocopter dan EHang menggunakan konfigurasi baling-baling vertikal, sementara Joby dan Archer mengembangkan sistem baling-baling yang dapat berubah posisi dari vertikal ke horizontal.
Penggunaan tenaga listrik membuat pesawat ini berpotensi lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Pendukung teknologi ini meyakini eVTOL dapat menjadi solusi transportasi perkotaan dengan biaya yang lebih terjangkau di masa depan.
Namun, untuk mewujudkan operasional komersial, pesawat ini harus melewati proses sertifikasi ketat dari otoritas seperti Federal Aviation Administration dan European Union Aviation Safety Agency. Proses ini biasanya melibatkan ratusan hingga ribuan jam uji terbang di bawah pengawasan regulator.
Cecutta memperkirakan sertifikasi bagi perusahaan terdepan mungkin baru tercapai sekitar 2027, sementara perusahaan lain bisa membutuhkan waktu hingga 2028 atau 2029.
Selain itu, masih ada tantangan teknis yang signifikan. Konsultan aerodinamika Richard Brown mengungkap bahwa aliran udara dari rotor eVTOL dapat menghasilkan tekanan kuat yang berpotensi merusak lingkungan sekitar atau membahayakan orang di dekatnya.
Ada pula risiko fenomena aerodinamis seperti vortex ring state, yang dapat menyebabkan hilangnya daya angkat secara tiba-tiba. Risiko ini sudah dikenal pada helikopter, dan bisa lebih kompleks pada eVTOL dengan banyak rotor yang saling berinteraksi.
Di luar aspek teknis, tantangan ekonomi juga menjadi perhatian. Meskipun biaya produksi dan operasional diperkirakan akan menurun seiring perkembangan teknologi dan otomatisasi, proses ini membutuhkan waktu lama.
Sebagian analis meragukan apakah bisnis taksi terbang dapat mencapai skala yang cukup besar untuk menekan biaya. Selain itu, kota-kota besar juga harus mampu menyediakan infrastruktur yang memadai untuk mendukung operasional ratusan hingga ribuan unit pesawat agar model bisnis ini benar-benar menguntungkan.