redaksiharian.com, Jakarta – Perkembangan teknologi pengisian daya untuk mobil listrik terus mengalami kemajuan. Saat ini, banyak Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang sudah dilengkapi teknologi fast charging, ultra fast charging, hingga flash charging dengan kapasitas daya yang sangat tinggi.

Meski demikian, tidak semua mobil listrik dapat memanfaatkan kemampuan pengisian daya tersebut secara maksimal. Hal ini disebabkan karena setiap kendaraan memiliki batas penerimaan daya yang berbeda.

Sebagai contoh, beberapa teknologi ultra fast charging mampu menyalurkan listrik hingga 360 kW. Namun apabila kendaraan hanya mampu menerima daya maksimal 50 kW, maka potensi penuh dari charger tersebut tidak dapat digunakan sepenuhnya.

Direktur Utama Charge+ Indonesia, Anthony Utomo, menjelaskan bahwa situasi seperti ini memang kerap terjadi karena kemampuan pengisian daya kendaraan telah ditentukan oleh masing-masing produsen mobil.

Ia mengatakan pihaknya mendorong pengembangan infrastruktur pengisian yang dapat digunakan bersama oleh masyarakat. Menurutnya, teknologi pengisian milik Charge+ memungkinkan distribusi daya yang lebih fleksibel di satu lokasi.

Anthony mencontohkan, jika salah satu slot pengisian digunakan oleh kendaraan dengan kapasitas penerimaan daya kecil, maka slot lainnya dapat memanfaatkan sisa pasokan listrik untuk kendaraan yang membutuhkan daya lebih besar. Dengan begitu, sumber listrik yang berasal dari Perusahaan Listrik Negara dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.

Konsep ini berbeda dengan sebagian stasiun pengisian konvensional yang masih menggunakan sistem statis. Pada sistem tersebut, daya listrik biasanya sudah terkunci pada masing-masing charger sehingga tidak bisa dibagikan ke unit lain meskipun tidak digunakan secara penuh.

Walaupun demikian, Anthony menegaskan bahwa keterbatasan penerimaan daya pada mobil listrik sebenarnya merupakan bagian dari desain kendaraan yang sudah dipertimbangkan oleh pabrikan. Faktor seperti efisiensi biaya produksi, kemampuan baterai, hingga ketahanan penggunaan jangka panjang menjadi alasan utama dalam menentukan kapasitas pengisian.

Di sisi lain, perkembangan teknologi baterai diyakini akan terus meningkatkan kemampuan pengisian daya mobil listrik di masa depan. Seiring berjalannya waktu, teknologi baterai diperkirakan akan semakin efisien dan biaya produksinya juga akan lebih terjangkau.

Karena itu, pihaknya mulai menyiapkan infrastruktur pengisian dengan kapasitas daya besar agar tetap relevan dengan perkembangan kendaraan listrik ke depan. Dengan adanya fasilitas seperti mobility hub, SPKLU diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan pengisian daya yang terus meningkat setiap tahunnya.