RedaksiHarian – Kelompok Kerja (Pokja) Jurnalis Jakarta Utara memberikan pelatihan jurnalistik bagi siswa SMA setempat yang diselenggarakan di Kantor Wali Kota Jakarta Utara dalam rangka membangun karakter.ke arah yang positif.

Menurut Ketua Pokja Jurnalis Jakarta Utara FaqihHailamidengan membangun karakter ke arah yang positif diharapkan siswa tidak lagi terlibat kegiatan kriminal termasuk tawuran.

“Karena beberapa kali meliput kasus kriminal melibatkan remaja sepertitawuran hingga perundungan, maka kami berinisiatif menyelenggarakan pelatihan jurnalistik setiap Sabtu,” kata Faqihdi Jakarta, Minggu.

Selain pelatihan teknis penyampaian informasi dan lain-lain. Salah satu yang diberikan dalam pelatihan tersebut adalah soal pengenalan aturan penyebaran informasi dalam hukum perundang-undangan yang berlaku untuk peningkatan literasi digital,

Ada juga di dalam pelatihanmateri terkait ancaman hukum bagi anak yang melakukan tawuran ataubahasa Jawa dikenal sebagaiklitihatau keliling golek getih (cari darah).

Peserta pelatihan yang berlatar belakang pelajar sekolah setingkat SMA di Jakarta Utara itu juga diberi kesempatan melihat langsung kondisi di dalam Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Jakarta, sebagai salah satu materi praktik kerja lapangan.

Namun, kunjungan ke lapas akan dilaksanakan di akhir pertemuan, setelah pelatihan jurnalistik berlangsung setiap pekan di Jakarta Utara hingga mencapai 12 kali pertemuan, dari 18 November 2023 hingga 3 Februari 2024.

Faqih berharap peserta yang hadir mampu merealisasikan penyebaran informasi yang positif di lingkungannya dengan benar dan mampu menekan angka kriminalitas dari kaum pelajar.

“Dengan cara itu, pelajar diharapkan bisa ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam program pembangunan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Polisi Gidion Arif Setyawan mengungkapkan jiwa Anti-Tawuran harus dihidupkan kembali di wilayah Jakarta Utara agartidak muncul kembali.

Tak hanyamendesain tujuh kendaraan operasional dengan atribut-atribut Satuan Tugas Anti-Tawuran atau pemberian rompi Satgas kepada 257 personel Patroli Bersama (Patma) di lingkungan RW se-Jakarta Utara.

“Lebih dari itu, semua cara kita lakukan, mulai dari membina, ke sekolah kita komunikasi dengan sekolah. Lalu upaya-upaya preventif juga kita lakukan selain upaya represif,” kata Gidion.

Gidion mengatakan masyarakat Jakarta Utara masih sangat paternalistik atau menghormati figur. Oleh karena itu, figur masyarakat anti-tawuran itu mesti dihidupkan secara masif oleh seluruh kalangan.

Dia berharap semua pihak bisa ikut terlibat dan menjaga spirit (semangat) mencegah tawuran yang kerap terjadi di beberapa wilayah seperti Penjaringan, Cilincing, Koja, dan Tanjung Priok.