RedaksiHarian – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menyatakan ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2024 memberi ruang bagi industri fesyenmelahirkan produk kreatif dan inovatif dengan berkolaborasi bersama pendidikan vokasi.

“Saya berharap dari panggung JMFW ini akan semakin banyak industri yang mendukung SMK dengan menjadi mitra,” katanya di ICE BSDSerpong, Tangerang Selatan, Sabtu.

Ia mengatakan kehadiran JMFW secara berkelanjutan menjadi ujung tombak untuk mencapai misi Indonesia menjadi pusat busana Muslim dunia, termasuk melalui produk karya para siswa SMK.

Bahkan, katanya, ajang JMFW juga memberi kesempatan bagi pendidikan vokasi untuk menghasilkan karya-karya yang berpotensi besar dapat menembus pada global

“Kita semua akan melihat karya-karya fesyen dari satuan pendidikan vokasi mampu bersaing dengan desainer papan atas Indonesia dan siap merambah pasar global,” katanya.

Terdapat 72 koleksi busana karya talenta-talenta mode dari satuan pendidikan vokasi tampil di ajang JMFW 2024 selama satu jam yang merupakan karya siswa dan mahasiswa dari 12 satuan pendidikan vokasi.

Busana-busana tersebut didesain dan dibuat oleh mahasiswa dari lima perguruan tinggi vokasi (PTV) yaitu ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, AKS Ibu Kartini Semarang, Universitas Kristen Maranatha, dan ISWI Fashion Academy.

Busana juga karya dari tujuh SMK bidang tata busana yakni SMK NU Banat Kudus, SMK Syubbanul Wathon, SMKN 1 Batu, SMK Cendika Bangsa Kepanjen, SMKN 1 Kasreman, SMK NU 2 Kedungpring, dan SMKN 3 Magelang.

Penampilan talenta mode insan vokasi ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa pendidikan vokasi menyimpan potensi besar untuk berkiprah dan memajukan industri fesyen melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Setiap satuan pendidikan vokasi menampilkan enam rancangan busana dengan tema beragam seperti koleksi d’JeLiPat dari SMKN 3 Magelang yang menampilkan enam busana bertema Getuk karena terinspirasi dari getuk tiga warga yakni makanan khas Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Kiki Yuliati, panggung JMFW 2024 menunjukkan pendidikan vokasi menyimpan potensi besar dalam mendorong kemajuan industri fesyen melalui kolaborasi dengan DUDI.

“Tujuan kita adalah memberikan pengalaman berharga kepada siswa sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat bahwa anak-anak anak-anak vokasi bisa menghasilkan karya yang diakui industri fesyen,” ujar dia.

Oleh sebab itu, pihaknya terus meningkatkan relevansi pendidikan vokasi dengan dunia industri termasuk industri busana Muslim yang sedang berkembang di Indonesia.

Hal tersebut lantaran keikutsertaan beberapa produk satuan pendidikan vokasi pada JMFW tahun lalu sudah masuk ke katalog komersial dan mendapatkan pembeli.

“Tidak hanya pembeli tapi beberapa desainer terkemuka juga memberikan kesempatan magang atau bahkan bekerja di tempat mereka,” kata Kiki.