RedaksiHarian – Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) menyebut pewarisan karakter bangsa yang kuat, memegang teguh rasa persatuan, dan cinta terhadap NKRI bisa dilakukan melalui ilmu-ilmu sejarah perjuangan pahlawan masa lalu.
“Kami dari asosiasi guru sejarah berusaha membangun sebuah pemikiran kunci, pewarisan karakter bangsa melalui sejarah;itu ada di guru dan dosen sejarah,” kata Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma dalam sambutannya pada Rakernas AGSI di Universitas Trilogi, Jakarta, Sabtu.
Sumardiansyah mengatakan bahwa pendidikan sejarah bisa dimulai kepada anak-anak sejak usia dini. Sehingga, lanjutnya, bisa tertanam di benak generasi bangsa rasa cinta kepada NKRI dan semangat perjuangan yang telah digelorakan para pahlawan.
“Anak saya yang pertama namanya Indonesiana. Dari kecil, saya sudah desain biar jadi sejarawan. Makanya, dari umur dua tahun, saya ajak keliling museum. Berarti kansejarah bisa dimulai dari keluarga tadi, seberapa keberpihakan kita terhadap sejarah, mengenalkan Indonesia Raya tiga stanza misalkan,” katanya kepada ratusan pesertaRakernas AGSI.
Seorang guru maupun dosen sejarah, kata Sumardiansyah, harus memiliki pola pikir untuk selalu mengembangkan diri dan memiliki keterampilan baru, selain juga mempunyai kualitas hidup yang baik di era teknologi saat ini.
“Bayangkan, kalau guru sejarahnya, dosen sejarahnya, lebih banyak membaca aplikasi hiburan, misalnya, yang didominasi oleh unsur hoaks daripada fakta kebenaran ini jadi problematika,” ucapnya.
Menurut dia, cara penyampaian pendidikan sejarah di era teknologi saat ini juga harus dikemas dengan kreatif; tidak hanya melalui buku-buku, tetapi juga materi yang dimuat lewat tayangan audio visual.
Kreativitas ilmu yang akan disampaikan kepada anak didik jugadiperlukan, sehingga pengajaran tidak monoton. Sumardiansyah menyebut hal itu perlu menjadi perhatian karena generasi milenial memiliki pendekatan berbeda dengan generasi sebelumnya.
“Mereka (peserta didik saat ini) suka yang aneh-aneh. Nah,yang anehnya, kita kemas secara kreatif, muatannya diisi secara substantif, dan alhamdulillah mereka mengenal bagaimana sosok PakHarto bukan hanya dari sisi militer dan politik, tapi juga dari sisi yang lebih humanis,”jelasnya.
Dia menyebutpara guru maupun dosen sejarah saat ini harus bisa keluar dari sistem pelajaran yang hanya berfokus pada militeristik dan politik. Tema-tema pembelajaran sebaiknya mulai masuk pada hal-hal yang jarang disentuh.
“Seperti cara berpakaian Pak Harto,misalnya, meneliti bagaimana pola makan beliau dengan tempe dan sayur lodeh, sikap saat di meja makan, masih banyak lagi, dan kami sudah mulai mulai mengarahkan menggunakan sistem itu,” ujar Sumardiansyah.