RedaksiHarian – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengatakansekolah adat di Indonesia bisa menjadi salah satu sarana untuk mengentaskan buta huruf.

Pelaksana Tugas Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek Aswin Wihdiyanto mengatakanprogram penurunan angka buta huruf pada yang ditargetkan pemerintah, bisa memanfaatkan sekolah adat dengan pendekatan kearifan lokal masing-masing.

“Dulu dieksplisitkan program buta aksara untuk masyarakat adat, namun program itu sudah tidak kami lakukan. Tapi masih ada program pengentasan buta aksara, dan program ini lebih holistik, termasuk juga untuk di masyarakat adat,” kata diadalam acara Sarasehan Pendidikan Masyarakat Adat di Jakarta, Rabu.

Selain mengentaskan buta huruf, kata dia, sekolah adat bisa menjadi jembatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Program pengentasan buta aksara yang dilakukan, ujar dia, bisa berlanjut untuk mengikuti program kejar paket sehingga bisa mendapatkan ijazah.

“Karena dari program buta aksara ini ada bridging masuk ke Program Paket A, B, dan C. Kalau udah selesai dapet ijazah,” katanya.

Aswin mengatakan pada 2022 angka buta huruf masyarakat Indonesia usia 15-59 tahun mencapai orang atau 1,5 persen dari total keseluruhan penduduk.

Ia menyampaikan dalam rencana strategis pengentasan buta huruf pada 2030 pemerintah menargetkan penurunan angka menjadi 0,40 persen atau menyisakan 681.967 orang.

Ia mengatakan strategi penuntasan buta aksara yang dicanangkan pemerintah, antara lain dengan pemutakhiran data, pembelajaran kontekstual dan fungsional, komitmen pemda, mendorong adanya regulasi daerah, pelibatan tokoh masyarakat adat, dan pelibatan para pemangku kepentingan.