RedaksiHarian – Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) mengemukakan pengelolaan programpembelajaran keterampilan Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) yang mantap semakin membuka peluang bagi perkembangan dunia usaha di dalam negeri.
“Pengelolaan BIPA yang baik dapat membuka peluang bagi dunia usaha,” kataWakil Ketua 1 APPBIPAAgus Suhardjono dalam acara siniarbertajuk“Matra-Matra Penyelenggaraan Program BIPA” diikuti di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, era globalisasi saat ini membuat pertumbuhan bisnis internasional semakin menggeliat karena banyak organisasi dunia menjalankan operasisecara global, termasuk di Indonesia.
Kesuksesan Indonesia dalam presidensi G-20 juga semakin mengangkat peran Indonesia di kancah dunia sehingga menarik perhatian para investor untuk bekerja sama dan datang ke Indonesia.
Seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia yang menunjukkan tren positif, kata dia, kebutuhan komunikasi lintas budaya, termasuk kemampuan berbicara dalam Bahasa Indonesia, juga semakin meningkat karena akan memudahkan negara-negara di dunia dalam berinteraksi.
“Kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga peluang bagi dunia usaha,” kata Agus Suhardjono yang juga Direktur Wisma Bahasa Yogyakarta itu.
Dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, ujar dia, para tenaga kerja asing akan mudah membangun jejaring dengan pengusaha lokal sehingga memperlebar peluang untuk mengakses pasar lokal.
Selain itu, pemahaman budaya yang terkandung dalam Bahasa Indonesia dapat menghindari kesalahpahaman dan konflik, baik dalam hubungan bisnis maupun industrial, antara para tenaga kerja asing dan pekerja Indonesia.
“Ini (Programpembelajaran keterampilan BIPA, red.) tentu menjadi keuntungan sendiri, perusahaan bisa meminimalisasi kerugian-kerugian keuangan akibat ketidakmampuan dalam berkomunikasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, optimalisasi BIPAmenjadi kebutuhan penting agar masyarakat dari berbagai negara dapat berinteraksi dengan baik, sehingga membangun “keluarga internasional”.