RedaksiHarian – Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan alat bantu untuk melindungi penyandang disabilitas dari ancaman kejahatan.
“Inovasi Kemensos itu berangkat dari kegelisahan saya yang sering mendapati kasus rudapaksa yang banyak menimpa anak-anak disabilitas rungu dan wicara,” kataMenteri SosialTri Rismaharinisebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian di Jakarta, Senin.
Alat bantu yang telah dikembangkan untuk melindungi penyandang disabilitasantara lain Gelang Rungu dan Wicara (GRUWI) dan Gelang Tuna Grahita (GRITA) serta tongkat adaptif.
GRUWIdan GRITA dilengkapi dengan sensor gerak dan pendeteksi denyut nadi. Apabila pemakainya panik dan denyut nadinya tiba-tiba naik, maka gelang akan mengeluarkan bunyi untuk menarik perhatian orang lain sehingga harapannya kejahatan yang mengancam pemakainya bisa dicegah.
GRUWI, GRITA, maupun tongkat adaptif dapat difungsikan sebagai perangkat peringatan dini bagi penyandang disabilitas jika ada ancaman bahaya dari luar.
“Produksi awal untuk GRUWI sebanyak 217 unit dan GRITA sebanyak 100 unit. Dari jumlah tersebut yang telah disalurkan GRUWI 65 unit dan untuk GRITA belum ada,” kata Kepala Sentra Terpadu Inten Soeweno Bogor, MO. Royani.
Ia menambahkan bahwa ada 75 GRUWIdan 90 GRITAyang sedang disiapkan untuk dikirim ke pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial yang membutuhkan alat bantu.
Menteri Sosial menyampaikan bahwa upaya pengembangan alat bantu untuk melindungi penyandang disabilitasisejalan dengan semangat keberpihakan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) kepada penyandang disabilitas.
“No one left behind. Jadi, tidak ada seorangpun yang tertinggal, termasuk disabilitas,”katanya.
Dia juga menyampaikan bahwaASEAN High Level Forum (AHLF) on Disability-Inclusive Development and PartnershipBeyond 2025 akan diselenggarakandari 10 sampai 12 Oktober 2023 di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.