RedaksiHarian – Nickel Industries terus berkomitmen dalam menghasilkan produk nikel yang ramah lingkungan dan sedikit karbon, salah satu caranya adalah berkolaborasi dengan PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA), perusahaan energi terbarukan yang berfokus pada pengembangan energi surya.

Sustainability Manager Nickel Industries Muchtazar mengatakan, kawasan tambang dan pengolahan nikel yang berada di Morowali, Sulawesi Tengah memiliki potensi energi surya yang besar sehingga sangat memungkinkan untuk operasional produksi nikel.

“Matahari inilah kami melihat kesempatan yang lebih besar untuk Nickel Industries, dan kami senang sekali bisa kolaborasi dengan SESNA yang merupakan provider untuk tenaga surya yang berasal dari Indonesia, dan kami ingin memprioritaskan untuk partner-partner lokal karena kami ingin keberadaan perusahaan bisa berkontribusi positif untuk perkembangan Indonesia,” ujar Muchtazar saat berbincang dengan ANTARA, di Jakarta, Selasa.

Muchtazar menjelaskan, Nickel Industries dan SESNA telah melakukan perjanjian kerja sama untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sejak 2021 untuk kapasitas 200 megawatt.

Sebagai permulaan proyek, Nickel Industries dan SESNA memulainya dengan kapasitas awal 396 kilowatt untuk melihat keunggulan dan kekurangan dari penggunaan tenaga matahari.

Penggunaan PLTS tersebut akan memanfaatkan lahan di sekitar area pertambangan, dan energinya disalurkan sebagai campuran untuk pengolahan nikel yang ada di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park.

“Sejauh ini kami sangat puas dengan kolaborasi ini, dan ingin segera meningkatkan kapasitas energi yang dihasilkan dari tenaga surya ini, baik untuk di tambang kami dan smelter kami ke depannya,” kata Muchtazar.

Pemanfaatan PLTS sejalan dengan program keberlanjutan yang dijalankan oleh Nickel Industries, khususnya pada pilar lingkungan, di mana pihak Nickel Industries berusaha untuk menghasilkan nikel yang ramah lingkungan atau rendah jejak karbon.

Saat ini nikel disebut sebagai logam yang digunakan untuk bertransisi ke renewable energy atau energi baru terbarukan (EBT). Oleh karenanya, diharapkan penggunaan PLTS dapat menghasilkan nikel yang diproses dengan cara berkelanjutan.

Muchtazar juga menampik bahwa operasional yang dikeluarkan untuk penggunaan EBT cukup mahal. Menurutnya, PLTS justru bisa lebih menghemat biaya.

“Kerja sama dengan SESNA, energi terbarukan ini bisa diperoleh dengan biaya yang sama atau bahkan lebih murah dari yang konvensional. Jadi sebetulnya dengan menerapkan EBT ini kita bisa berhemat juga dalam jangka panjang,” ujar Muchtazar.

Nickel Industries bersama SESNA berharap ke depannya dapat sepenuhnya menggunakan EBTdalam memproduksi nikel baik dari sisi pertambangan maupun pengolahannya.

Reputasi Nickel Industries di dunia pertambangan nikel cukup disegani, pada awal September 2023, perusahaan ini mendapat predikat Sustainability dari TrenAsia ESG Awards.

SESNA sendiri merupakan perusahaan energi terbarukan yang berfokus pada pengembangan energi surya. Adapun fokusnya sebagai pengembang dan investor mulai dari pengadaan, konstruksi, layanan operasi dan pemeliharaan.

Perusahaan ini memiliki target pencapaian bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen. Target ini salah satunya melalui pemanfaatan energi surya.