RedaksiHarian – Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengajak pejabat tinggi pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan Kementerian Kominfo meneladani sifat dan semangat tokoh proklamator Mohammad Hatta atau Bung Hatta.

Menurutnya, setiap pejabat pemerintah perlu belajar kepada Bung Hatta agar terus menggelorakan spirit optimisme ke tengah masyarakat.

“Spirit ini sangat krusial untuk menuntaskan program-program prioritas, menuju Visi Indonesia Maju 2045, sekaligus membawa Indonesia keluar dari middle income trap dengan kebijakan-kebijakan strategis di sektor komunikasi dan informatika,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima, Jumat (15/9).

Hal itu dikatakannya saat menjadi pembicara kunci pada acara seminar eksekutif jabatan pimpinan tinggi dengan tema “Leaders and the Power of their Influence” yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (14/9).

Konon, setelah ditahan dan diasingkan selama 9 tahun pada 1932 hingga 1941, Jepang menawarkan jabatan penting kepada Bung Hatta agar mau bekerja sama dengan Pemerintah Jepang.

Tawaran tersebut dia tolak dan lebih memilih untuk menjadi penasihat. Meski demikian, posisinya sebagai penasihat pemerintahan Jepang dimanfaatkan oleh Bung Hatta untuk membela kepentingan rakyat Indonesia dan memajukan agenda kemerdekaan.

Menkominfo menegaskan kisah Bung Hatta tersebut dapat menjadi pembelajaran pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan Kementerian Kominfo.

Kisah kehidupan sehari-hari Bung Hatta mampu membawa inspirasi, termasuk ketika anak Bung Hatta, Gemala Rabiah Hatta, pernah mendapat sentilan sang ayah ketika ketahuan menggunakan amplop dengan Logo Konsulat Jenderal RI untuk kepentingan surat non-negara.

“Setelah Indonesia merdeka, meskipun dia telah menjadi tokoh pendiri bangsa dan pejabat negara, Hatta tetap hidup dalam kesederhanaan dan kejujuran. Dikisahkan melalui sekretaris pribadinya, Iding Wangsa Widjaja bahwa dia pernah ditegur Bung Hatta karena kedapatan menggunakan tiga lembar kertas dari Sekretariat Wakil Presiden untuk keperluan pribadi,” tuturnya.

Menteri Budi Arie menekankan empat hal yang bisa ditiru dan dipelajari dari Bung Hatta, yaitu kejelasan visi, kegigihan, integritas dan profesionalisme. Keempatnya akan menjadi bekal dalam menghadapi setiap rintangan yang ada.

Menkominfo menyatakan, Bung Hatta juga kerap menyediakan waktu untuk berhenti sejenak dan beristirahat untuk berkontemplasi. Waktu itu menurutnya dibutuhkan untuk memperbaiki strategi dan taktik, mempersiapkan diri, dan bahu-membahu melangkah lebih maju dengan barisan kolaborasi lebih kuat menuju hasil yang jauh lebih baik.

“Kita butuh waktu untuk berkontemplasi buat memetik pesan dari apa yang telah dibaca. Dengan begitu, menjadi harapan bersama bahwa kita tidak seterusnya berdiam diri saja tetapi juga mampu untuk bergerak lebih baik,” ujarnya.

Menurut Budi Arie, teladan Bung Hatta sangat perlu diterapkan di masa kini sejalan dengan cita-cita untuk menjadi negara maju di tahun 2045. Bagi Kementerian Kominfo yang berhubungan dengan masa depan atau digitalisasi, semangat Bung Hatta dinilai relevan dalam merumuskan terobosan dari sisi teknologi maupun informatika.

“Banyak yang harus kita kerjakan untuk melompat menjadi negara maju. Kita tahu bahwa teknologi informatika ini mendisrupsi banyak hal. Karena itulah tugas Kementerian Kominfo ini harus mewarnai itu,” pungkas Menteri Budi.