RedaksiHarian – Pengamat pertanian yang juga Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Irwan Sukri Banua mengatakan bahwa Lampung memiliki potensi untuk kembali mengembangkan budidaya tanaman vanili.

“Vanili ini menjadi salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, tapi memang belum menjadi fokus dan mudah-mudahan bisa dikembangkan lebih luas,” ujar Irwan Sukri Banua di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengatakan bahwa vanili menjadi komoditas perkebunan yang cukup bernilai ekonomis, namun pengembangannya masih belum maksimal akibat tata cara budidaya yang dirasa cukup sulit.

“Karena vanili ini memiliki perbedaan aspek budidaya dari tanaman lainnya, dimana proses penyerbukan harus dilakukan dengan bantuan manusia satu per satu, jadi cukup sulit dan banyak petani yang enggan membudidayakan sebab perlakuan budidaya tanaman memakan proses yang rumit,” ucapnya.

Dia menjelaskan untuk mengembalikan budidaya vanili guna memaksimalkan produksi komoditas perkebunan tersebut, langkah pertama yang dapat dilakukan yakni dengan mengembalikan minat petani untuk menanam vanili.

“Saat ini masih ada petani yang membudidayakan tetapi memang skalanya belum luas baru di beberapa tempat yang dikembangkan, jadi cukup penting untuk mengembalikan minat petani menanam ini. Sekaligus mengajak peneliti agronomi untuk mencari pola budidaya yang lebih mudah untuk pengembangan vanili,” katanya.

Menurut dia, dengan dukungan penelitian dari pada ahli agronomi diharapkan pengembangan komoditas vanili di Lampung dapat kembali dilakukan dengan menemukan pola budidaya yang lebih mudah, hingga cara untuk meningkatkan produktivitas vanili.

“Nantinya harus ada penelitian khusus terkait dengan bagaimana cara memproduksi vanili dengan optimal. Sehingga makin banyak komoditas unggulan di Lampung yang dapat dikembangkan untuk mensejahterakan masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian daerah,” tambahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung produksi vanili di Lampung terakhir tercatat pada 2014, dengan produksi total sebanyak 63 ton. Pada tahun selanjutnya hingga kini produksi komoditas vanili tidak ada lagi di Lampung.

Produksi terakhir vanili Lampung pada 2014 tersebar di Kabupaten Lampung Barat dengan jumlah 2 ton, di Kabupaten Tanggamus sebanyak 5 ton, Kabupaten Lampung Selatan ada 20 ton, Pesawaran berjumlah 24 ton, Pesisir Barat 1 ton dan Kota Bandarlampung 11 ton.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) harga vanili kering stabil dalam beberapa tahun dimana pada 2022 harganya berkisar Rp1.571.941 per kilogram.