RedaksiHarian – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI memberikan edukasi kepada mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) tentang pentingnya diplomasi pelindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI).

“Kami menyambut baik dengan kuliah umum ini karena karena dapat membuka wawasan mahasiswa USK terkait peran Kemenlu dalam upaya pelindungan WNI,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik USK Prof Agussabti di Darussalam, Banda Aceh, Senin.

Kegiatan tersebut,lanjutnya, juga mengingatkan pada berbagai kasus yang menimpa WNI di luar negeri, diantaranya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kasus tersebut sangat meresahkan dan merupakan kejahatan kemanusiaan luar biasa yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di kawasan ASEAN.

“Kami berharap lewat kuliah umum ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk menjadi diplomat. Di mana diplomat memiliki peran penting dalam menjaga martabat bangsa,” katanya.

Direktur Perlindungan Luar Negeri Kemenlu Judha Nugraha dalam kuliah umumnya mengatakan Kemenlu melalui Direktorat Pelindungan WNI telah berperan aktif dalam melindungi WNI.

Ia menyebutkan dalam rentang tahun 2018 – 2023 pihaknyatelah menangani 18.820 kasus WNI, diantaranya masalah tenaga kerja/ABK, TPPO, serta imigrasi, haji dan umrah.

“Memang diplomasi pelindungan ini adalah tanggung jawab Kemenlu. Tapi pelindungan ini juga harus kita lakukan secara terdidik,” katanya.

Dalam kegiatan tersebutMenteri Luar Negeri (Menlu)Retno Marsudi turut menyampaikan sambutannya secara daring dari Nairobi, Kenya. Ia mengatakan sejumlah laporan internasional menyebutkan diplomasi luar negeri Indonesia meningkat cukup baik, bahkan terbaik ketiga di kawasan Asia.

“Kepercayaan masyarakat internasional ini tidak jatuh dari langit dan tidak diperoleh dari semalam. Ini hasil dari tugas panjang, konsistensi diplomasi dan politik luar negeri Indonesia,” ujar Menlu RetnoMarsudi.