RedaksiHarian – Komitmen Jabar Masagi dalam mendorong siswa-siswi di Jawa Barat tumbuh jadi SDM unggul kian nyata.

Sejak diterapkan sebagai program pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, beberapa sekolah yang tergabung dalam program ini mengaku sudah merasakan adanya kemajuan yang pesat.

“Alhamdulillah yang didapat sangat bermanfaat untuk diimplementasikan di SMA Negeri 25 Bandung, seiring program Jabar Masagi anak-anak mulai berkembang dari sisi karakter dan mencintai budaya lokal,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 25 Bandung, Siti Nurmala.

ADVERTISEMENT

Selain terasanya perkembangan pesat dari sisi budaya, program Jabar Masagi juga menggugah gairah anak didik untuk kian aktif dalam menciptakan kolaborasi.

“Dari program Jabar Masagi juga membuat suasana sekolah sangat berbeda lebih bergairah lebih bersemangat, perkembangan jati diri siswa semakin pesat, dan siswa juga jadi aktif berkolaborasi dengan guru, dengan sesama siswa, dengan orang tua, siswa juga jadi tergugah untuk membuat sebuah proyek-proyek wiraswasta,” ucap Siti Nurmala.

Seiring dengan pernyataan Siti Nurmala, program Jabar masagi juga sukses menciptakan anak didik yang memiliki empat fokus program Sakola Masagi.

“Program ini membuat anak didik memiliki empat goals Jabar Masagi , yaitu Niti Surti, Niti Harti, Niti Bukti, dan Niti Bakti,” ujar Rini Ambarwati selaku Kepala Sekolah SMKN 7 Bandung.

Kadisdik Jabar, Wahyu Mijaya menyebut program Jabar Masagi hadir di tengah kekhawatiran masyarakat akan masivnya pengaruh budaya asing di Indonesia.

“Kita ini lahir dan dibesarkan dalam sebuah budaya, budaya itu lah yang membentuk karakter kita, kemudian karakter dari lingkungan membentuk jati diri,” ujar Wahyu Mijaya selaku Kadisdik Prov Jabar.

“Kita hadir dalam Jabar Masagi untuk mensuport karakter anak, jangan sampai anak tidak memahami jati dirinya, jangan sampai anak sekarang dipengaruhi dengan banyaknya budaya luar,” sambung Wahyu Mijaya selaku Kadisdik Prov Jabar.

Meski tujuan utama adanya program Jabar Masagi adalah pemahaman budaya lokal dan penguatan karakter warga sekolah, Wahyu Mijaya menyebut program ini tidak bersifat memaksa, melainkan jadi salah satu faktor yang mendukung pembelajaran.

“Kita memanusiakan manusia, berpikir lokal tetapi kita tetap mendunia, act locally think globally tetap berpikir kritis,dan berkarakter. Kita tetap membangun berdasarkan dengan budaya lokalnya masing-masing, misal Betawi kita pendekatan dengan budaya lokal Betawi, kemudian priangan dengan budaya kesundaan, kemudian Cirebon dengan budaya kacirebonan,” kata Wahyu Mijaya selaku Kadisdik Prov Jabar saat hadir di acara Ngobrol di PR pada Kamis, 17 Agustus 2023.

“kita tidak memaksakan sebuah budaya untuk dipahami dan dimengerti, diperkuat dengan masing-masing budayanya,” sambung Wahyu Mijaya selaku Kadisdik Prov Jabar.

Wahyu Mijaya pun berharap makin banyak stakeholder yang ikut mendukung program ini untuk menciptakan generasi yang unggul.

“Tidak hanya membangun dari sisi skillnya tetapi juga membangun karakternya, kita tidak hanya wajib mengajarkan tetapi kita wajib mendidik. Nah membangun karakter inilah yang menjadi bagian yang sangat penting yang harus kita lakukan, sehingga nanti 2045 putra-putri kita bukan menjadi beban negara tetapi putra-putri kita adalah potensi negara yang akan membangun Negeri,” ujar Kadisdik Jabar.***