RedaksiHarian – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meningkatkan kualitas mutu, produk dan nilai tambah melalui strategi hilirisasi industri pengolahan perikanan, salah satunya untuk komoditas tuna-tongkol-cakalang (TTC).
KKP membangkitkan industri kelautan dan perikanan melalui pemenuhan kebutuhan bahan baku industri, peningkatan kualitas mutu produk dan nilai tambah untuk peningkatan investasi.
“Serta ekspor hasil kelautan dan perikanan yang dilaksanakan dengan strategi hilirisasi industri pengolahan untuk komoditas TTC, rajungan-kepiting, udang dan rumput laut serta dengan peningkatan ragam (diversifikasi) produk bernilai tambah,” ujar Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Budi Sulistiyo kepada Antara di Jakarta, Rabu.
Budi menuturkan, industri pengolahan komoditas TTC di Indonesia sebanyak 1.019 unit pengolahan ikan (UPI) dengan volume produk olahan pada 2022 mencapai 318.167 ton dengan nilai ekspor sebesar 690,34 juta dolar AS.
Produk tersebut, diekspor dalam bentuk 67 persen beku, 26 persen kaleng, 4 persen segar dingin, 1 persen asap dan 2 persen olahan lainnya.
Adapunragam produk (diversifikasi) produk TTC yang dihasilkan UPI di Indonesia dalam bentuk beku berupa loin hingga tulang/rusuk tuna.
Sedangkan dalam bentuk segar berupa ikan utuh untuk sashimi atau utuh, tuna kaleng, serta olahan lain berupa bakso hingga sambal dan ikan asap.
Sementara untuk produk non pangan antara lain berupa tepung ikan, minyak ikan tuna, ekstrak tuna dan hidrosat ikan tuna.
Dari segi penjualan, produk TTC dengan jenis tuna sirip kuning grade sashimi utuh segar memiliki harga kisaran Rp9 juta hingga Rp12 juta per kilogram (kg).
Disusul dalam bentuk beku (steak, saku chunk, ground meat) dengan kisaran harga Rp510.000-Rp 555.000/kg, dan tuna kaleng dengan harga jual Rp53.800 – Rp 60.000/kaleng (10 oz) atau Rp 203.000-Rp 210.000/kg sehingga kenaikan nilai tambah 6 kali lipat.
Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2023 hari ini, Presiden Jokowi menyebut hilirisasi SDA pada akhirnya akan berbuah manis bagi perekonomian bangsa.
“Ini memang pahit bagi pengekspor bahan mentah. Ini juga pahit bagi pendapatan negara jangka pendek. Tapi jika ekosistem besarnya sudah terbentuk, jika pabrik pengolahannya sudah beroperasi saya pastikan ini akan berbuah manis pada akhirnya,” ujarnya.