/photo/2022/07/29/1068055030.jpg)
RedaksiHarian – Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan pernyataan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) soal Pak Lurah di Sidang Tahunan MPR 2023 adalah sebuah candaan.
“Kalau ada, ya, barangkali perumpamaan semua peraturan harus atas persetujuan ‘Pak Lurah’ saya pikir hanya sebagai sebuah jokes saja, ada sense of humor bagus juga di negeri ini, ya, kan?” kata Paloh usai menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2023 di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu 16 Agustus 2023.
Sebelumnya, Jokowi menyinggung soal sebutan ‘Pak Lurah’ yang diarahkan kepadanya oleh sejumlah politikus. Jokowi mulanya tak tahu siapa yang disebut ‘Pak Lurah’ itu.
ADVERTISEMENT
“Setiap ditanya soal siapa capres, cawapresnya, jawabannya ‘Belum ada arahan (dari) Pak Lurah,'” kata Jokowi .
“Siapa ‘Pak Lurah’ ini? Sedikit-sedikit kok ‘Pak Lurah’. Belakangan saya tahu, yang dimaksud ‘Pak Lurah’ itu ternyata saya,” ucap Jokowi . “Ya saya jawab saja saya bukan lurah. Saya Presiden Republik Indonesia. Ternyata Pak Lurah itu kode,” ujarnya lagi dikutip Pikiran-rakyat.com dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Jokowi mengatakan, dia bukan pimpinan partai atau koalisi sehingga persoalan terkait capres atau cawapres bukanlah wewenangnya.
“Jadi, saya ingin mengatakan itu bukan wewenang saya. Bukan wewenang ‘Pak Lurah’ sekali lagi. Walaupun saya paham sudah nasib seorang Presiden untuk dijadikan paten-patenan atau alibi,” tuturnya.
Tak hanya disebut ‘Pak Lurah’, Jokowi juga mengungkapkan kesedihannya saat orang-orang menyebutnya ‘bodoh’, ‘tolol’, ‘plonga-plongo’, dan ‘Fir’aun’.
Jokowi juga mengatakan dalam pidato itu bahwa posisi sebagai Presiden tidak senikmat yang dibayangkan banyak orang.
Jokowi menyinggung bagaimana pada era media sosial seperti sekarang, masyarakat mudah mengadu atau mengkritik dirinya melalui berbagai platform.
Jokowi mengaku tak pernah mempermasalahkan mereka yang mengkritiknya, termasuk dengan menggunakan kata-kata kasar. Namun, Jokowi sedih karena karena kritik dengan kata-kata kasar menunjukkan hilangnya sopan santun bangsa.
“Saya tahu ada yang mengatakan saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tahu apa-apa, Fir’aun, tolol. Ya ndak apa, sebagai pribadi saya menerima saja,” katanya.
Meskipun menerima, ia mengaku sedih dengan ucapan orang-orang tersebut.***