RedaksiHarianBerdasarkan data dari situs pemantauan kualitas udara , IQAir, pada pukul 6.00 WIB, udara di Jakarta berada di angka 170.

Angka 170 di IQAir berarti kualitas udara di Jakarta masuk ke kategori buruk atau tidak sehat. Sementara itu, polusi udara mencapai angka PM2,5.

Dari IQAir, Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan kualitas terburuk di dunia . Setelah Jakarta , urutan kedua yaitu Dubai (Uni Emirat Arab), kemudian Johannesburg (Afrika Selatan).

ADVERTISEMENT

Ada beberapa wilayah di Jakarta yang masuk ke kategori udara buruk dan masuk dalam kategori tidak sehat. Cilandak Timur dan Kebayoran Lama yang berada di angka 206.

Kategori tersebut ditanggapi oleh kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta , Asep Kuswanto. Ia menyebutkan buruknya udara di Kota Metropolitan itu disebabkan karena musim kemarau.

“Memang Juli hingga September biasanya itu musim kemarau sedang mencapai tinggi-tingginya, sehingga berakibat pada kondisi kualitas udara yang kurang baik,” kata Asep Kuswanto dilaporkan Antara.

Sejumlah strategi disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta untuk menanggulangi buruknya kualitas udara tersebut. Salah satunya yaitu peningkatan tata kelola.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengatur strategi untuk mengatasi buruknya kualitas udara yaitu melalui peningkatan tata kelola. Peningkatan tata kelola berarti DLH DKI Jakarta akan mengendalikan pencemaran udara melalui berbagai kebijakan,” ujar Asep Kuswanto.

“Strategi yang kedua yaitu pengurangan emisi pencemaran udara . Salah satunya dengan menggencarkan uji emisi dan penggunaan transportasi umum,” ucap Asep Kuswanto lagi.

Pada beberapa waktu lalu, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta , Heru Budi Hartono mengungkapkan penyebab udara buruk di Kota Metropolitan itu. Ia menyebutkan jika buruknya kualitas udara di wilayah tersebut disebabkan oleh transportasi.

“Kalau dihitung-hitung, cuaca buruk di Jakarta 50 persen disumbang dari polusi transportasi,” kata Heru Budi Hartono.

Berbagai kendaraan ada di Jakarta . Mulai dari kendaraan pribadi hingga umum dengan asap yang tebal.

Selain itu, kemacetan juga tidak pernah lepas dari Jakarta . Bahkan, Kota Metropolitan itu identik dengan macet.***