
RedaksiHarian – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)DwikoritaKarnawati mengatakan bahwa kunci untuk menghadapi bencana hidrometeorologi basah maupun kering adalah pada tata kelola air.
Kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, Dwikorita mengatakan dengan wilayah Indonesia yang sangat luas, sangat memungkinkan apabila wilayah barat memasuki musim kemarau sedangkan wilayah timur masih basah.
“Sehingga kami koordinasi dengan pemerintah daerah fenomena cuaca iklim ini sangat dinamis, prediksi ada, tapi dinamika juga terus berkembang,” ujar Dwikorita.
Menurut dia, tata kelola sumber daya air bisa dipersiapkan seperti membangun bendungan, waduk, saluranirigasi, bekerja sama antara pemerintah daerah, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Balai Wilayah Sungai di tiap daerah.
“Jadi untuk kering maupun basah kuncinya di tata kelola air, dan PUPR sangat-sangat mumpuni di hal tersebutbersama-sama Balai Wilayah Sungai dan pemerintah daerah,” ujar Dwikorita.
Hingga Dasarian I Juli sekitar 60 persen zona musim (ZOM) di Indonesia sudah memasuki musim kemarau.
Dwikorita mengatakan BMKG bersama stakeholder terkait telah berkoordinasi untuk mitigasi dua jenis bencana hidrometeorologi basah dan kering sejak awal Februari.
Sebab menurut dia meskipun di suatu daerah terdapat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bisa saja di dekatnya terjadi banjir karena perbedaan topografi dan perbedaan yang ditimbulkan dari cuaca lokal.
Selain tata kelola air, Dwikorita juga mengimbau pemerintah daerah untuk rutin rajin memperbarui informasi cuaca, memonitor informasi cuaca, karena dinamika cuaca yang sangat kompleks.
“Setiap 3 jam kami akan memberikan informasi. Ada prakiraan cuaca untuk setiap 3 jam, kalau ada peringatan dini itu setiap 3 hari sampai 3 jam, atau bahkan sampai 30 menit sebelum kejadian itu selalu ada. Sehingga informasi itulah mohon terus dimonitor agar kita bisa mengantisipasi,” ujar dia.