RedaksiHarian – Kepala Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Samantha Power mengumumkan pemberian bantuan kemanusiaan untuk Ukraina sebesar lebih dari 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,5 triliun) pada Senin (17/7), saat melakukan lawatan ke negara tersebut.

Power mengumumkan pemberian bantuan tersebut di kantor Badan Kedaruratan Nasional Ukraina di Kiev. Bantuan itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga Ukraina yang terkena dampak konflik.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan terdapat sekitar 17 juta orang yang membutuhkan bantuan akibat konflik yang berlangsung sejak tahun lalu.

Badan dunia itu juga mencatat lebih dari 9 ribu warga sipil tewas sementara 16.000 lainnya terluka sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022, yang memicu perang darat terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Selain itu, terdapat 6 juta pengungsi Ukraina yang kini tinggal di berbagai negara Eropa, menurut PBB.

Power juga menyerahkan bantuan tambahan berupa peralatan senilai 2,3 juta dolar AS (sekitar Rp34,7 miliar) untuk membantu badan tersebut memperbaiki infrastruktur penting yang rusak di Ukraina akibat serangan Rusia.

Bantuan kemanusiaan dari USAID tersebut rencananya akan diberikan melalui PBB serta mitra organisasi nonpemerintah lainnya, dan di antaranya akan digunakan untuk meningkatkan pasokan makanan darurat, peralatan kesehatan, serta air minum yang aman.

“Amerika Serikat akan terus membantu orang-orang yang terkena dampak invasi skala penuh yang dilancarkan Rusia dan tetap berkomitmen untuk memberikan bantuan untuk menyelamatkan mereka yang paling membutuhkannya,” tulis pernyataan yang diterima Reuters sebelum penyaluran bantuan kemanusiaan ini diumumkan.

Dengan bantuan tersebut, Amerika Serikat total telah memberikan lebih dari 2,6 miliar dolar AS (sekitar Rp39,2 triliun) bantuan kemanusiaan sejak konflik tersebut dimulai.Lebih dari 1,9 miliar dolar AS (sekitar Rp28,65 triliun) di antaranya disalurkan melalui USAID.

Selama kunjungannya ke Ukraina, Power juga dijadwalkan untuk menemui para petani, pekerja di sektor energi, petugas tanggap darurat, serta mitra lokal USAID.

Pengumuman bantuan ini disampaikan sebulan setelah bendungan pembangkit listrik tenaga air Kakhovkadihancurkan pada 6 Juni, sehingga membanjiri ratusan rumah baik di wilayah yang dikuasai Ukraina maupun Rusia.

Peristiwa ini menjadi salah satu bencana terbesar dalam konflik kedua negara sejauh ini.

Para pakar hukum internasional yang membantu Ukraina menyimpulkan bahwa “sangat mungkin” Rusia telah memasang bahan peledak di bendungan itu. Sementara pemerintah Rusia mengatakan Ukraina meledakkannya atas saran dari negara-negara Barat.

Sumber: Reuters