
RedaksiHarian – Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang menjadi simbol kemerdekaan dan kedaulatan negara.
Tak hanya perayaan semata, momen tersebut juga sebagai pengingat akan perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia .
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memeriahkan hari bersejarah tersebut, salah satunya memberikan ucapan melalui puisi .
ADVERTISEMENT
Berikut kumpulan puisi kemerdekaan HUT ke-78 RI karya Sapardi Djoko Darmono, WS Rendra, Widji Tukul, Mohammad Yamin hingga Taufik Ismail.
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Menatap merah putihMelambai dan menari-nari di angkasaKibarannya telah banyak menelan korban nyawa dan harta benda
Berkibarnya merah putihYang menjulang tinggi di angkasaSelalu teriring senandung lagu Indonesia RayaDan tetesan air mata
Dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaanUntuk mengibarkan merah putih harus diawali dengan pertumpahan darahPejuang yang tak pernah merasa lelah untuk berteriak : Merdeka!
Menatap merah putihAdalah perlawanan melawan angkara murkaMembinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia
Menatap merah putihAdalah bergolaknya darah demi membela kebenaran dan azasi manusiaMenumpas segala penjajahan di atas bumi pertiwi
Menatap merah putihAdalah kebebasan yang musti dijaga dan dibelaKibarannya di angkasa rayaBerkibarlah terus merah putihku dalam kemenangan dan kedamaian
Karya: W S Rendra
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainyaTiada kuasa lagi menegakTelah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnyaKe dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainyaIa sudah tua luka-luka di badannyaBagai harimau tua susah payah maut menjeratnyaMatanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanyaSesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antaranya anaknyaIa menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainyaBelum lagi selusin tindak maut pun menghadangnyaKetika anaknya memegang tangannya, ia berkata:Yang berasal dari tanahkembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucintaKita bukanlah anak jadah Kerna kita punya bumi kecintaan.Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya.Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.Bumi kita adalah kehormatan.Bumi kita adalah juwa dari jiwa.Ia adalah bumi nenek moyang.Ia adalah bumi waris yang sekarang.Ia adalah bumi waris yang akan datang.
Hari pun berangkat malamBumi berpeluh dan terbakarKerna api menyala di kota AmbarawaOrang tua itu kembali berkata:Lihatlah, hari telah fajar!Wahai bumi yang indah,kita akan berpelukan buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu seorang cucuku akan menancapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan suburMaka ia pun berkata:”Alangkah gemburnya tanah di sini!”Hari pun lengkap malamketika menutup matanya.”
Karya: Wiji Thukul
Tidak tergantung kepada Departemen Tenaga KerjaSemakin hari semakin nyata nasib di tangankuTidak diubah oleh siapapunTidak juga akan dirubah oleh Tuhan Pemilik Surga
Apakah ini menyakitkan? entahlah!Aku tak menyumpahi rahim ibuku lagiSebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagiHanya dengan memaki-maki
Waktu yang diisi keluh akan berisi keluhWaktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkanSerdadu-serdadu kebijaksanaanBiar perang meletus kapan sajaItu bukan apa-apa
Masalah nomer satu adalah hari iniJangan mati sebelum dimampus takdirSebelum malam mengucap selamat malamSebelum kubur mengucapkan selamat datangAku mengucap kepada hidup yang jelataMERDEKA!
Karya: Kuntowijoyo
Susunan batu yang bulat bentuknyaberdiri kukuh menjaga senapan tuapeluru menggeletak di atas mejamenanti putusan pengunjungnya.
Aku tahu sudah, di dalamnyatersimpan darah dan air mata kekasihAku tahu sudah, di bawahnyaterkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali ibu-ibu direnggut cintanya dan tak pernah kembaliBukalah tutupnya senapan akan kembali berbunyi meneriakkan semboyan Merdeka atau Mati.Ingatlah, sesudah sebuah perang selalu pertempuran yang baru melawan dirimu.
Kita Adalah Pemilik Sah Negeri Ini oleh Taufik Ismail
Tidak ada pilihan lainKita harus berjalan terusKarena berhenti atau mundurBerarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kitaDalam pengabdian tanpa hargaAkan maukah kita duduk satu mejaDengan para pembunuh tahun yang laluDalam setiap kalimat yang berakhiran”Duli Tuanku ?”
Tidak ada lagi pilihan lainKita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalanMengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuhKita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsaraDipukul banjir, gunung api, kutuk dan hamaDan bertanya-tanya, inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu sloganDan seribu pengeras suara yang hampa suaraTidak ada lagi pilihan lainKita harus berjalan terus
Karya: Mohammad Yamin
Darah di tanah tak bertuan menggenangRatusan nyawa melayangBergelimpangan di medan perangMengangkat panji kemenangan
Seorang pejuang berteriak lantangGagah berani memegang senjata lawan penjajahDua kata menjadi pilihanMerdeka atau mati
Tubuh kekar dihujani peluruPenuh lubang di sekujur tubuhDarah bercucuran mereka tetap tegak berdiriSekali lagi lantangkan merdeka atau mati
Karya: Mohammad Yamin
Sejarahmu terus terkenang di ingatankuTujuh belas Agustus saksi bisu hari kebebasankuPara pahlawan bertaruh keras pertahankan keutuhanmuSebagai kenangan sepanjang hidupIndonesia kini merdeka
Berkibarnya sang merah putihBawa napas lega tanpa nestapaMengenang cerita berderailah air mataKemerdekaan hilangkan jeritan laraIndonesia Merdeka…
Lahirkan pemuda pemudi bangsaTerbang ke awan menguak kedamaianMenengok ke kanan bawa kebaikanKaki cengkeram erat semboyan kemerdekaan
Itulah kumpulan contoh puisi bertemakan kemerdekaan Indonesia yang dapat dibacakan pada 17 Agustus.***