redaksiharian.com – Amerika Serikat (AS) memberikan peringatan kepada Turki terkait operasi militernya di wilayah Suriah.

Pentagon mengungkapkan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah berbicara kepada timpalannya dari Turki tentang “penentangan kuat” terhadap operasi militer baru Turki di Suriah dan menyuarakan keprihatinan atas situasi yang meningkat di wilayah tersebut.

Austin, dalam panggilan itu, juga menyatakan belasungkawa atas serangan bom pada 13 November di Istanbul.

“Dia juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya tindakan di Suriah utara dan Turki, termasuk serangan udara baru-baru ini, beberapa di antaranya secara langsung mengancam keselamatan personel AS yang bekerja sama dengan mitra lokal di Suriah untuk mengalahkan ISIS,” katanya, dilansir Reuters, Kamis (1/12/20222).

“Menteri Austin menyerukan deeskalasi, dan berbagi penentangan kuat Departemen [Pertahanan] terhadap operasi militer Turki yang baru di Suriah,” kata pernyataan tersebut.

Sebelumnya, Pentagon telah menyatakan tindakan salah satu anggota NATO yang melancarkan serangan udara baru-baru ini di Suriah bahkan secara langsung mengancam keselamatan personel AS.

“Selain itu, tindakan militer yang tidak terkoordinasi mengancam kedaulatan Irak,” kata Departemen Pertahanan AS.

Adapun, lebih dari 900 tentara AS tetap berada di Suriah, tujuh tahun setelah mantan Presiden Barack Obama pertama kali menyetujui pengerahan yang di bawah Donald Trump secara terbuka berubah menjadi operasi untuk “mengamankan ladang minyak”. Pasukan AS ditempatkan di samping milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi, yang telah lama menjadi mitra utama Washington di lapangan.

Di sisi lain, permusuhan antara Turki dan kelompok bersenjata Kurdi telah berlangsung selama beberapa dekade, dengan serangan kekerasan berkala yang meletus sejak tahun 1970-an. Ankara menyalahkan faksi Kurdi atas serangan bom 13 November di Istanbul, yang merenggut nyawa enam orang dan melukai 81 lainnya.