redaksiharian.comProses pengalihan saham pemerintah di PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) ke PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) akan rampung Desember 2022.

“Prosedur yang diperlukan untuk mengubah status Persero pada SMBR adalah melalui perubahan anggaran dasar SMBR. Oleh karena itu, SMBR akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (“RUPSLB”)” ungkap VP Corporate Secretary SMBR Doddy Irawan, dikutip dari keterbukaan informasi Selasa (11/10/2022).

Selanjutnya akta pernyataan keputusan RUPSLB tersebut akan diajukan untuk memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Dengan rampugnya aksi korporasi ini akan membuat SMGR semakin perkasa sebagai penguasa pasar (market share) semen nasional. Tak hanya itu, kapitalisasi pasar (market cap) SMGR juga akan menjadi semakin jumbo.

Saat ini, market share SMGR berkisar antara 49%-52%. Sementara market share SMBR sebanyak 3%. Jika keduanya digabungkan, maka SMGR akan menguasai 55% penjualan semen nasional.

Sedangkan dari sisi market cap, SMGR tercatat memiliki valuasi Rp44,19 triliun, sementara SMBR sebesar Rp4,65 triliun. Konsolidasi antara keduanya akan membuat holding semen BUMN tersebut memiliki valuasi hingga Rp48,84 triliun.

Sebagai penguasa pasar yang dominan, SMGR akan bisa meningkatkan produksi dan penjualan dengan harga yang lebih terjangkau. Penggabungan usaha ini juga akan dapat mengurangi persaingan industri semen, yang belakangan mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).

Seperti diketahui, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akan dapat tambahan inbreng PMN sebanyak 7,49 miliar lembar saham seri B milik negara. Artinya, Semen Indonesia bakal menjadi induk Semen Baturaja dengan menggenggam sebanyak 75,51% saham seri B Semen Baturaja. Sedangkan sebesar 24,49% dimiliki oleh publik.