redaksiharian.com – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berupaya mendorong kemampuan industri agar terus berkembang dan berdaya saing. Maka itu, diperlukan investasi dalam optimalisasi teknologi.

Hal itu sejalan dengan arahan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, khususnya dalam implementasi program priorias pada peta jalan Making Indonesia 4.0. Oleh karena itu, Badan Standaridisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) melalui unit satuan kerja Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Pencegahan Pencemaran Industri (BBSPJPPI) Semarang melaksanakaan kegiatan Business Gathering dengan tema ‘Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi AiMS dan Sinergi Industri Sebagai Wujud Peningkatan Layanan Prima BBSPJPPI’ pada tanggal 27 Oktober 2022 lalu.

Kepala BSKJI Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menyampaikan pentingnya percepatan implementasi industri 4.0. Menurutnya, hal itu agar industri dalam negeri semakin mandiri dan maju.

“Kemenperin telah menginisiasi program Making Indonesia 4.0 melalui penerapan optimalisasi teknologi industri guna mewujudkan pembangunan sektor industri yang mandiri, berdaulat, maju, berkeadilan, dan inklusif. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan percepatan dalam implementasi teknologi 4.0 dalam proses produksi pada industri dalam negeri,” kata Doddy dalam keterangannya, Minggu (30/10/2022).

Doddy juga menyampaikan, keberhasilan penerapan program Making Indonesia 4.0 membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.

“Penerapan Making Indonesia 4.0 memerlukan adanya dukungan kebijakan pemerintah yang holistik sebagai pilar penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan ekonomi digital dan Industri 4.0. Selain itu juga ketersediaan dan kualitas infrastruktur digital, kesiapan regulasi, ketersediaan SDM unggul, dan akses permodalan, serta kematangan konsumen sebagai pilar penting ekonomi digital 4.0,” lanjutnya.

Untuk itu, Doddy meminta agar seluruh satuan kerja di bawah BSKJI aktif dalam melakukan optimalisasi teknologi di instansinya masing-masing dan mencari alternatif teknologi dengan harga terjangkau guna menjawab kebutuhan dan permasalahan pada industri.Alternatif teknologi yang dimaksud juga menjadi wujud nyata dalam rangka mendorong keberhasilan program Making Indonesia 4.0 dan penguatan struktur industri.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan peluncuran komersialisasi Adaptive Monitoring System (AiMS) yang merupakan produk milik BBSPJPPI Semarang sebagai sistem monitoring kualitas udara maupun air limbah industri yang terintegrasi dengan sistem informasi digital.

Kepala BBSPJPPI Semarang, Emmy Suryandari menyampaikan manfaat AiMS sebagai solusi bagi industri dalam pemenuhan regulasi.

“Hal ini sejalan dengan pemberlakuan PP No. 22 tahun 2021 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, di mana mengamanatkan pemantauan ambien untuk parameter wajib pantau harus dilakukan dengan metode aktif kontinu selama 24 jam. Melalui pemanfaatan AiMS akan mempermudah dalam melakukan pemantauan kualitas udara pada lingkungan industri maupun laboratorium, sehingga akan berdampak pada peningkatan kualitas produksi serta pelayanan kepada pelanggan,” ujar Emmy.

AiMS merupakan produk buatan dalam negeri sebagai sistem mitigasi pencemaran air maupun udara dan diharapkan mampu mendukung industri dalam penerapan industri hijau, serta mendukung program P3DN dan substitusi impor untuk produk sejenis. Ia pun menambahkan terkait kesiapan AiMS dalam tahap komersialisasi dan pemasaran.

“Saat ini BBSPJPPI telah membentuk ekosistem kerja sama dengan industri dalam memasarkan produk tersebut, serta AiMS telah hadir dalam eKatalog LKPP untuk mempermudah dalam proses pengadaan pemerintah,” jelas Emmy.